SURAT TERBUKA Untuk Relasi non-Muslim Tionghoa

Kepada teman dan relasi non-muslim Tionghoa dimana pun berada

Oleh : Yarifai Mappeaty

Salam sejahtera untuk kita semua

Oleh karena saya tidak mungkin menghubungi kalian semua satu persatu, mendorong saya membuat surat terbuka ini, dengan harapan, hubungan kita yang telah terjalin selama ini tak terganggu oleh situasi politik mutakhir di tanah air.

Ketahuilah, bahwa reaksi damai ummat islam pada 14/10 dan 4/11 dan insya Alllah, 25/11/2016 yang akan datang, bukan gerakan kebencian ummat islam terhadap kalian, bukan gerakan anti kebhinnekaan dan bentuk intoleransi, apalagi meronrong NKRI. Kuharap kalian Jangan ikut-ikutan mengamini informasi yang menyesatkan seperti itu, yang justeru dibuat oleh penguasa media yang berasal dari kalangan kalian sendiri.

Bagaimana mungkin NKRI ini hendak kami runtuhkan, sedangkan ia dibangun di atas tumpukan tulang belulang dan genangan darah para syuhada kami. Bayangkan, kalau ketika itu tidak ada seruan jihad yang dikenal dengan “resolusi jihad” untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung, maka mungkin negara yang kita cintai ini, tak kan pernah ada pada hari ini. Dan, ruh dan spiritualitas kitab suci kami itulah yang membuat para syuhada kami dahulu, tak pernah gentar menghadapi bangsa penjajah di dalam usaha mempertahankan kemerdekaan republik ini, meski hanya dengan bambu runcing dan sejata lain yang apa adanya. Lantas, bagaimana kami ini disebut ancaman bagi NKRI? Sungguh bentukan opini yang kelewatan dan menyesatkan.

Ketahuilah teman, Al-qur’an bagi kami tak sekadar tuntunan hidup. Tetapi, ia juga sumber tertinggi ideologi dan spiritual kami. Ia kami muliakan seperti memuliakan Nabi kami, melebihi nyawa-nyawa kami sendiri. Fisiknya, kami perlakukan secara sangat berbeda dan tidak sembarangan. Ia tak kami sentuh ketika kami tidak suci. Waktu kecil dulu, kami mesti duduk bersila ketika sedang membacanya. Ia kami cium lalu taruh di atas kepala sejenak, begitu selesai membacanya. Kami pun mesti buat selamatan ketika setiap kami khatam membacanya. Begitulah kami memperlakukannya.

Tetapi, apakah dengan begitu, kami lantas dicap sebagai islam fundamental yang berbahaya, rasis, intoleransi dan anti kebhinnekaan, sehingga menjadi ancaman bagi NKRI? Semua itu tuduhan keji yang dialamatkan pada kami yang berjumlah puluhan, bahkan ratusan juta di negeri ini. Justeru kamilah benteng terakhir NKRI yang sejati. Pemimpin negeri ini, boleh datang dan pergi, tetapi NKRI, harus tetap berdiri kokoh menantang zaman.

Kalau ummat islam yang menuntut keadilan itu karena kitab sucinya dilecehkan lalu dicap rasis dan anti kebhinnekaan, maka apakah menurutmu, saya ini juga seorang rasis, intoleransi dan anti kebhinnekaan, karena saya adalah salah seorang dari ummat islam yang menuntut keadilan itu? Tentu kalian menjawab, tidak. Sebab, kalau saya seorang rasis, intoleransi dan anti kebhinnekaan, maka kalian tidak pernah mengajakku jalan bersama.

Selain itu, secara teologis, kami hanya mengenal satu tuhan. Maka semua mahkluk, termasuk kalian, adalah ciptaaanNya. Apa alasan kami membencimu, sedang tuhanku dan tuhanmu, pada hakekatnya adalah tuhan yang sama. Persoalan bukan Dia yang engkau sembah, itu urusanmu. Mengapa pula kami dicap rasis dan anti keberagaman? Padahal, keberagaman ras itu adalah salah satu tanda kemahakayaanNya. Mustahil kami mengingkari itu.

Demikian pula soal toleransi, kami cukup berpegang pada “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, yang terkandung dalam kitab suci kami. Kami juga tidak perlu repot-repot melakukan rekayasa yang memaksa kalian memeluk islam. Karena kitab suci kami itu juga dengan tegas mengatakan, “tidak ada paksaan memeluk islam”. Adakah ajaran menghargai perbedaan dan toleransi seperti ini dalam kitab sucimu? Sementara itu, kami masih tetap saja dicap intoleransi dan tak menghargai perbedaan.

Demi tuhan, kami tak membencimu, teman. Sehingga, kalian tak perlu takut berada di tengah kami yang mayoritas ini. Kalian memang minoritas, tetapi tidak akan mengalami nasib yang sama seperti saudara-saudara kami yang disembelih dan dibakar hidup-hidup di Miyanmar. Juga, kalian tidak akan mengalami perlakukan buruk seperti yang dialami saudara-saudara kami yang menjadi minoritas di eropa, amerika, dan afrika.

Tetapi justru salah satu dari kalian telah menista kitab suci kami. Kami menuntut, agar ia diperlakukan sama dengan orang-orang sebelumnya. Sebab, ia tak hentinya melecehkan kami dengan mulutnya yang terbiasa menyebut “taik”. Kepada media asing, ia memfitnah kami dibayar untuk ikut pada reaksi damai 411. Ini sama saja, ia sekali lagi, menghinakan kami di mata dunia. Sementara di sisi lain, ia tak berkomentar sedikitpun mengenai aksi kebhinnekaan yang mendukung dia pada 1911, yang nyata-nyata menggunakan massa bayaran dan pasukan nasi bungkus.

Harap kalian mengerti teman, kalau kami tak kan pernah berhenti menggeliat hingga mulutnya itu dicuci bersih. Karena dari mulutnya itulah yang menjadi sumber kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini.

Yarifai Mappeaty. Pengurus masjid yang tinggal di Makassar

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "SURAT TERBUKA Untuk Relasi non-Muslim Tionghoa"