Atasi Ketiadaan Gedung Pustaka, Guru GGD Rancang Pustaka dalam Kelas

MANOKWARIKU.COM –Masalah tingkat kemampuan berliterasi Papua memang masih tertinggal dengan daerah lain di Indonesia. Di Manokwari misalnya, lebih gampang mencari tempat rental Play station dari pada toko buku. Salah satu lagi adalah karena banyaknya sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang memadai untuk mendorong kemampuan anak-anak berbahasa. Seperti yang dialami SMP Negeri 20 Satap Mupi.

“Waktu kita (GGD) datang sekolah ini seperti ‘kapal pecah’, saya menemukan banyak buku-buku pelajaran berserakan di gudang, karena tidak ada perpustakaan buku tersebut di tumpuk di gudang tersebut, sementara koleksi buku dan keberadaan gedung pustaka sangat penting untuk meningkatkan kualitas lulusan,”ujar Safei salah seorang guru GGD di Manokwari yang ditugaskan di sekolah tersebut.  SMPN 20 Satap Mupi memiliki 4 orang guru GGD, yakni; Hasmadhani (Bahasa Inggris), Raja Inal Sihotang (Matematika), Safei (Penjas), dan Syamsiar (IPS).

Mengatasi kondisi ini Safei merancang perpustakaan langsung berada dalam kelas. Ia mengistilahkan dengan “pustaka lima langkah”, artinya lima langkah dari meja siswa langsung ada koleksi buku. “Dengan keterbatasan gedung, guru harus kreatif, jangan terlena dengan kondisi, kelas bisa difungsikan sebagai labor eksperimen, bahkan perpustakaan, walau bukan seperti ruangan yang penuh dengan lemari buku, tapi setidaknya ada rak-rak buku kreatif dalam ruang kelas siswa, jadi saat guru tidak datang, siswa langsung bisa mengisinya dengan membaca buku, selama ini siswa tidak terkendali saat kelas tersebut gurunya absen,”ujar Safei.

Untuk merancang pustaka dalam kelas tersebut Safei membeli kayu-kayu selempengan “sampah” showmel. Lalu kayu-kayu tersebut ia rakit menjadi rak-rak buku kreatif. Setelah selesai rak-rak tersebut ia cat semenarik mungkin. Rak-rak kreatif tersebut di pasang di dinding kelas. Sementara untuk mengisi rak-rak tersebut yang membutuhkan cukup banyak buku, Safei meminta bantuan kepada TBM (Taman Bacaan Masyarakat) di Manokwari yang mendapat donasi buku setiap bulan dari program paket buku gratis yang diprogramkan Presiden Joko Widodo.

“Selain mengajar saya juga bergabung dengan Komunitas Literasi di Manokwari, yakni Motor Noken Pustaka, kebetulan setiap bulan Noken Pustaka mendapatkan bantuan buku, sehingga pengelola Motor Noken Pustaka juga sangat senang untuk menyalurkan buku-buku tersebut ke sekolah di daerah terluar, tertinggal, terdepan di Manokwari,”ujar Safei, Minggu (27/8). Safei sendiri menargetkan semua kelas memiliki pustaka sendiri dalam kelas, saat ini sudah tiga kelas yang sudah memiliki pustaka sendiri. Buku-buku yang dipajang memang terbatas, namun cukup untuk semua siswa dalam kelas. “Kebetulan semua kelas sudah memiliki pintu yang bisa dikunci saat jam pulang sekolah, jadi saya tidak kuatir buku akan diganggu dan dirusak oleh masyarakat yang lalu lalang setiap hari di perkarangan sekolah. Siswa pun saya berikan training lebih dahulu bagaimana menjaga buku-buku tersebut agar tidak hilang dan rusak. Setiap kelas memiliki penanggung jawab, saat ada siswa yang mau membawa buku pulang atau merusak, penanggung jawab tadi yang duluan mencegat,”ujar guru GGD asal Padang tersebut.

“Selain menghidupkan pustaka di setiap kelas, kedepannya kita akan mengaktifkan fungsi majalah dinding. Rencananya setiap kelas memiliki majalah dinding, siswa akan kita ajarkan membuat kliping koran, inilah salah satu langkah kami guru GGD untuk mengejar ketertinggalan dari sekolah-sekolah lain yang lebih dahulu maju, terutama kemampuan berliterasi,”tutup Safei.**(dj)

author
talk les do more
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Atasi Ketiadaan Gedung Pustaka, Guru GGD Rancang Pustaka dalam Kelas"