Dua Guru Garis Depan Ikut Sekolah Antikorupsi (SAKTI) Guru 2019

MANOKWARIKU.COM – Korupsi yang sudah menjadi persoalan sistemik memang tidak bisa dilawan oleh individu saja, namun harus dilakukan secara masif dengan melibatkan berbagai pihak. Oleh sebab itu, ICW bekerjasama dengan berbagai pihak yang peduli pada masa depan antikorupsi di Indonesia menyelenggarakan Sekolah Antikorupsi (SAKTI) Guru 2019.

Bertempat di IPC Corporate University, Bogor, Jawa Barat, sebanyak 25 guru dari berbagai provinsi di Indonesia mengikuti Sekolah Antikorupsi (SAKTI) Guru 2019 yang diselenggarakan oleh Indonesia Corruption Watch(ICW). Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, yaitu dari tanggal 18-22 Maret 2019.

Dari 25 guru tersebut, terdapat dua peserta yang merupakan Guru Garis Depan (GGD), yaitu Hasmadani dari SMPN 20 Satu Atap Mupi, Manokwari, Papua Barat dan Rifqi Nurul Aslami dari SDN 172 Seluma, Bengkulu. Untuk bisa terpilih, peserta harus melalui berbagai tahapan seleksi yang cukup ketat, meliputi seleksi administrasi, kuliah e-learning di https://akademi.antikorupsi.org/ dengan menyelesaikan mata kuliah wajib Pedagogi Kritis dan Pendidikan Antikorupsi , dan seleksi wawancara.

Peserta dalam kegiatan ini bukan hanya guru yang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) namun diikuti pula oleh guru tidak tetap (honorer) dari berbagai jenjang, baik jenjang pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Dari Papua Barat, terdapat dua guru yang berhasil lolos seleksi. Selain Hasmadani, Eva Hormalina dari SMAN 1 Warmare juga terpilih menjadi peserta. Hadir sebagai pengajar diantaranya adalah Pak Jimmy Paat, Lody Paat, Bambang Wisudo, dan team Indonesia Corruption Watch.

Selama kegiatan berlangsung, peserta disuguhi dengan materi yang memperkaya pengetahuan mereka tentang korupsi dan kaitannya dengan peran serta mereka sebagai pendidik, diantaranya Pengantar Hukum Antikorupsi, Dampak Korupsi, Sejarah Korupsi, Pedagogi Kritis, Literasi Kritis, Menulis Naratif untuk Pendidikan, Pola dan Modus Korupsi Pendidikan, Konten Kreatif, Melahirkan Guru Intelektual Transformatif, hingga Membangun Gerakan Antikorupsi.

ICW juga mengundang SPAK Indonesia dan Direktorat Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK. Tidak hanya itu, peserta juga dibawa langsung mengunjungi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan berdiskusi langsung dengan salah satu pejabat struktural KPK, Alexander Marwata.

Kegiatan diakhiri dengan perumusan Rencana Tindak Lanjut(RTL) yang akan dilaksanakan oleh peserta setelah kembali ke daerah masing-masing.

“SAKTI Guru 2019 mengukir masa depan antikorupsi Indonesia. Sejatinya, gurulah yang menjadi kurikulum sesungguhnya. Melalui guru, peradaban dibangun lewat sembilan nilai antikorupsi yang akan diteruskan ke peserta didik”, ungkap Hasmadani, salah satu peserta SAKTI Guru 2019.

”Saya Rifqi Nurul Aslami, Guru dari salah satu desa di pelosok Kabupaten Seluma – Bengkulu. Suatu kebanggaan buat saya telah ikut menjadi bagian SAKTI GURU 2019. Tidak mudah bagi saya melewati tahapan demi tahapan sehingga bisa lolos menjadi salah satu peserta SAKTI GURU. Harus mengikuti e-learning selama kurang lebih satu bulan dan menghabiskan 8 modul dengan harus selalu bisa mengakses sinyal. Sinyal kebetulan di desa saya masih belum ada, harus mencari terlebih dahulu. Saya merupakan Guru Garis Depan (GGD) yang baru setahun setengan menjalani tugas di sini”, cerita Rifqi tentang pengalamannya hingga lolos SAKTI Guru.

Guru yang berinteraksi langsung dengan peserta didik memiliki peran yang sangat esensial sebagai agen perubahan untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang. Olehnya itu, kegiatan SAKTI Guru ini bertujuan untuk melahirkan guru-guru yang tidak hanya menjejalkan pengetahuan namun bisa menumbuhkan kesadaran kritis di kalangan peserta didik sehingga menggugah hati mereka untuk bersama-sama melawan korupsi dimulai dari langkah terkecil, yakni menanamkan nilai-nilai integritas dari diri sendiri.

author
talk les do more
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dua Guru Garis Depan Ikut Sekolah Antikorupsi (SAKTI) Guru 2019"