Guru GGD Aktif Jadi Pegiat Literasi 

Tidak ada komentar 332 views

Catatan Bimtek Instruktur Literasi Baca-Tulis Nasional

                                                                            Oleh: Safei Ricardo Desima

Sekitar akhir tahun 2017, saya ditelepon Arja Mulia, guru GGD angkatan II di Kab.Bima, Nusa Tenggara Barat. “Pak, Safei, tolong bantu saya, saya juga ingin mendirikan Taman Bacaan Masyarakat di desa tempat saya bertugas, bagaimana saya bisa memperoleh buku donasi?” tanya guru asal Padang itu. Awalnya saya mengirimi Arja beberapa dus buku. Kemudian saya memberitahu Arja bagaimana cara mendapatkan buku donasi melalui program pengiriman buku gratis (Free Cargo Literacy) setiap tanggal 17. Tidak beberapa lama, ternyata paket buku yang diperoleh Arja lebih banyak dari saya. Sebagian guru GGD di daerah sudah mengetahui program ini (FCL), mereka mendirikan Taman Bacaan di daerah tugas mereka. Data tersebut dapat dilihat pada daftar anggota simpul Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Banyak Taman Bacaan yang terdaftar di sana sebagian besar dikelola oleh guru GGD. Saking banyaknya, saya capek menghitung jumlahnya yang terdaftar dari Aceh hingga Papua. 

Baca juga: https://manokwariku.com/pendidikan/ingat-pengalaman-dengan-sm-3t-guru-pedalaman-ini-menangis-catatan-lokakarya-hari-guru-sedunia/

Agar memperoleh donasi buku, sebagian besar mereka memang mendaftarkan taman bacaannya ke Pustaka Bergerak Indonesia yang digagas budayawan, Nirwan Ahmad Arsuka. Setiap bulannya buku-buku berdatangan ke taman-taman di pelosok-pelosok negeri sejak adanya donasi buku bebas biaya kirim. Ada yang memperoleh berdus-dus buku setiap bulannya, ada juga yang tidak pernah memperolehnya, hal tersebut tergantung kegigihan mereka bergerilya di dunia maya. Banyak cara yang dilakukan guru GGD di lokasi untuk memkampanyekan membaca di daerah pengadian mereka.

 Adanya keinginan guru-guru muda ini mau menceburkan diri jadi pegiat literasi diluar jam mengajar adalah sebuah nilai tambah. Apalagi sejak dimunculkannya Gerakan Indonesia Membaca (GIM) oleh pemerintah tahun 2015 memunculkan berdirinya Taman-taman Bacaan baru. Taman Bacaan yang sebelumnya mati suri kini hidup kembali. Rak-rak buku sekolah sekarang sudah disisipi buku-buku fiksi, biasanya hanya penuh oleh buku teks pelajaran. Bahkan, sekarang membaca buku non teks pelajaran diwajibkan 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.

Pada 8 April 2019 saya sungguh beruntung diberi kesempatan bisa bertemu sebagian  guru GGD yang juga menjadi pegiat literasi aktif di daerah tugas mereka masing-masing. Kesempatan tersebut saat kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional di Jakarta. Kegiatan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut sekaligus mempertemukan para pegiat literasi yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Jumlahnya sebenarnya sangatlah banyak, peserta diseleksi di tingkat provinsi. Hanya 120 peserta yang diundang (guru, pegiat, penyuluh Bahasa), empat diantaranya adalah guru dan pegiat literasi yang bertugas sebagai guru GGD di tempat pengabdian.

Meski hanya empat orang, ini sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya banyak guru GGD aktif jadi pegiat literasi di daerah tugas mereka. Cuma saja belum dapat kesempatan karena harus bersaing dengan konstestan lain yang diseleksi oleh Badan Bahasa provinsi masing-masing. Keempat guru GGD tersebut adalah saya (mewakili Papua Barat), Abdul Mahyuddin Djou (Nusa Tenggara Timur), Juniar Sinaga (Kepulauan Riau), dan Iksan Rumaru (Maluku).

            Sosok Abdul Mahyudin Djou cukup gentol melakukan gerakan literasi di tempat ia bertugas, yakni SMK Negeri Kokar. Abdul pun sangat sadar bahwa pendidikan di NTT pada umumnya masih jauh tertinggal dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Bersama guru GGD lainnya ia berjuang keras mendekatkan buku kepada anak-anak di desanya. Abdul juga gencar menggalang donasi buku untuk siswa-siswa di NTT. Cerita manis juga saya dapat dari Iksan Rumaru, guru GGD di Maluku yang juga pengurus Rumah Baca Suru, Kab.Seram Bagian Timur, Maluku. Rumah Baca Suru secara suka rela menampung  dan mendidik warga Desa Suru usia SD hingga menengah ke atas untuk belajar di rumah pintar yang mereka dirikan. Rumah Baca Suru juga mencarikan “ayah angkat” untuk pemberian beasiswa kepada anak-anak di desa tersebut. Rumah Baca Suru juga melatih anak-anak agar Hafiz Quran.

            Moment ini juga mempertemukan saya dengan guru inspiratif, Juniar Sinaga. Saat menjadi guru SM-3T Juniar Sinaga ditempatkan di Lany Jaya, Provinsi Papua. “Waktu bertugas di sana (Lany Jaya) kami adalah rombongan pertama yang dipulangkan karena kondisi di sana tidak kondusif, sering terjadi gejolak,”cerita Juniar Sinaga kepada saya. Hebatnya, Juniar menuliskan kenangannya itu dalam sebuah buku inspiratif berjudul “Menyemai Cinta di Papua”. Dalam buku tersebut Juniar berbagi kisah tentang pahit manisnya di daerah pengabdian. Juniar Sinaga melanjutkan perjuangannya sebagai guru GGD di Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Di daerah tugas baru ia menjadi pegiat literasi aktif di sana.

            Moment Bimtek memang tidak habis hanya untuk berbagi keluh-kesah di daerah pengabdian. Selama seminggu (8 s/d 14 April) kami disuguhkan materi yang cukup padat. Diantaranya materi Proses Kreatif Menulis Karya Inspiratif  yang disampaikan oleh novelis kondang, Habiburahman El Shirazy. Penulis buku mega best seller “Ayat-ayat Cinta” itu membongkar kisah pahit perjuangannya untuk menjadi penulis terkenal. Habiburahman menuturkan bahwa untuk bisa menjadi penulis yang karyanya sukses dibutuhkan kerja keras serta tekad pantang menyerah. Sementara materi-materi lain disampaikan oleh pegiat literasi yang sudah berkecimpung jauh dalam gerakan literasi di tanah air, seperti Wien Muldian, Melvi, Billy Antoro, Firman Venayaksa, dan Gol A Gong. Pemateri lainnya adalah Bambang Trimansyah, Krisanjaya, Retno Utami, Tengku Syafrina, Emi Emilia, Hurip Danu Ismadi, Prof.Marsudi Wahyu Kisworo, Prof.Dadang Sunendar, dan Prof.Muhadjir Effendy.

            Virus membaca memang harus ditebarkan, apalagi guru di garda depan.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Guru GGD Aktif Jadi Pegiat Literasi "