Ingat Pengalaman dengan SM-3T, Guru Pedalaman Ini Menangis (Catatan Lokakarya Hari Guru Sedunia)

Ingat Pengalaman dengan SM-3T, Guru Pedalaman Ini Menangis
(Catatan Lokakarya Hari Guru Sedunia)

Oleh:Safei,S.Pd.

Beliau mengambil microphone dan berdiri disamping kursinya, lalu memulai mengajukan pertanyaan kepada narasumber, pertanyaan itu ternyata ditujukan kepada saya yang waktu itu duduk didepan sebagai pembicara.

“Sekolah saya pernah memiliki guru SM-3T, saat itu guru SM-3T memang membuat suasana baru di sekolah, mereka betul-betul membuat perubahan di sekolah, pertanyaan saya bagaimana bapak Safei bisa bertahan sampai detik ini di wilayah 3-T sampai bisa menjadi pembicara disini, saya tahu guru seperti bapak dihadapkan pada tempat yang sulit,”guru tersebut tidak bisa menahan tanggisnya dan ditenangkan oleh peserta lainnya. Melihat suasana tersebut dihadapan saya, saya pun entah kenapa meneteskan air mata. Memang saat bicara dihadapan peserta saya menceritakan guru-guru pedalaman (SM-3T/GGD) berjuang dipedalaman bahkan ada yang gugur dimedan pengandian. Cerita saya tersebut ternyata diresapi oleh seorang peserta yang pernah satu sekolah dengan guru SM-3T, saya pun memberikannya sebuah buku untuk kenangan.

Peringatan Hari Guru Sedunia memang pertama kali diadakan Unesco di Indonesia. Peringatan “World Teachers Day” diperingati setiap tahun tanggal 5 Oktober sejak 1994. Hari Guru Sedunia diperingati ulang tahun penandatanganan Rekomendasi ILO /Unesco 1966 tentang Status Guru. Rekomendasi ini menetapkan hak dan tanggung jawab guru dan hal terkait lainnya termasuk kesempatan belajar lebih tinggi bagi guru, rekrument guru, penempatan kerja guru, serta lingkungan belajar mengajar yang kondusif bagi guru.

Kegiatan Hari Guru Sedunia di Indonesia diadakan di Aula Gedung Kemdikbud, Senayan Jakarta 2 Oktober 2018 dihadiri menteri pendidikan, Muhadjir Effendi dan pakar pendidikan seperti Prof. Arief Rahman. Hari Guru Sedunia dirayakan setiap tahun di seluruh dunia dengan mengikutsertakan pemerintah dan lembaga pemerintah, organisasi multi-dan bilateral, LSM, akademisi, guru. Dengan diadopsinya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama SDG-4 tentang Guru sebagai kunci pencapaian Agenda Pendidikan pada tahun 2030. Unesco terus melakukan langkah-langkah nyata mengatasi tantangan dalam bidang pendidikan, terutama terkait dengan profesi dan profesionalisme. Menurut Unesco dunia membutuhkan 69 juta guru jika ingin mencapai pendidikan dasar dan menengah universal pada tahun 2030.

Tingginya kebutuhan guru saat ini juga diamini oleh Muhadjir Effendi, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut bahwa pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah guru. Meskipun begitu, menurut Muhadjir Effendi pemerintah akan merekrut guru untuk mengisi kekosongan tersebut serta memperjuangkan hak-hak guru, terutama penghasilan yang layak.

“Bagaimana guru bisa mengajar baik, kalau kesejahteraannya belum terpenuhi,”kata Muhadjir disambut tepuk tangan 600 guru yang hadir dalam ruangan tersebut.

Kegiatan Lokakarya Hari Guru Sedunia ini turut dihadiri Christine Hakim, aktris film-film layar lebar tersebut adalah duta Unesco. Lokakarya menghadirkan guru-guru inspiratif, diantaranya Dian Anshoriah, M.Pd, guru inspiratif dari Jimbaran Bali, Imam Wahyudi, S. Si. guru dari Kutai, Kaltim, Endang, Sriningsih M.Pd dari NTB, Ahmad Syarief, M. Pd. dari Makassar, Titik Sunarti Widyaningsih, M. Pd dari Yogyakarta, Gantino Habibi, M. Pd. dari Bukittinggi, Dayang Suriani, M. Pd. dari Balikpapan, dan saya sendiri (Safei) dari Manokwari. Pembicara menampilkan makalah dan aktivitas inovasi dalam pengajaran.

Tag:
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Ingat Pengalaman dengan SM-3T, Guru Pedalaman Ini Menangis (Catatan Lokakarya Hari Guru Sedunia)"