Ketika Anak Papua “Menumpahkan” Cat di Atas Kanvas

MANOKWARIKU.COM – Ulis Kaibur begitu bersemangat mendapat peralatan lukis pagi itu. Tidak  hanya kuas, cat, kanvas, ia dan puluhan pelukis pemula lainnya juga memperoleh sebuah tripod lukis dari panitia lomba lukis yang diadakan Dinas Pariwisata Pemuda dan Budaya Manokwari, Rabu (14/12) di SMP Pasir Putih. Ulis Kaibur yang memakai topi kodok tersebut mencari tempat untuk mengoreskan imajinasinya. Sebuah lobi di depan taman sekolah menjadi pilihannya. Sama halnya dengan Huberthina Rumadas, ia memilih sebuah lorong di sudut sekolah untuk mengekpresikan jiwa seninya. Peserta lainnya memilih tempat lain, ada yang di bawah pohon, dalam kelas, bahkan ada yang memilih menyendiri tidak ingin karyanya dilihat sebelum selesai.

“Sebagai pemerhati seni saya merasa peduli seni lukis mendapat apresiasi dan tempat di Manokwari. Event seperti sangat jarang sekali diadakan, padahal seni lukis Papua umumnya punya daya tarik sendiri, misalnya seni lukis dekoratif  Papua bisa mencontoh seperti seni dekoratif di Pulau Bali, banyak tema yang bisa diangkat kalau saja ada pelukis-pelukis di Manokwari yang mau menggarap dan konsisten,”ujar Misbah Surbakti pemerhati seni di Manokwari yang juga sebagai ketua tim juri lomba  tersebut.

Kegelisahan Misbah Surbakti dengan minimnya pelukis-pelukis muda di Manokwari terlihat dengan tidak adanya sanggar melukis di Manokwari. Bahkan, untuk membeli kanvas saja di Manokwari sangat sulit dan harus di pesan di Jayapura. “Kadang-kadang kalau ada teman tugas ke luar kota seperti ke Jogya saya biasanya selalu nitip membeli kanvas lukis, karena barang tersebut tidak ada dijual di Manokwari, ini sebagai tanda bahwa seni lukis belum mendapat tempat di Manokwari, dahulu saat masih punya banyak waktu pernah saya menggarap Sanggar Lukis Gaharu bersama Mas Darman, namun seiring waktu dengan susahnya mencari teman yang seirama dengan seni lukis sehingga sanggar tersebut juga berhenti,”ujar seniman asal Medan tersebut yang masih melukis di waktu senggangnya.

“Sebagian besar peserta ini masih sangat awam dengan lukis kanvas, bahkan baru pertama melukis di atas kanvas memakai cat minyak, ada yang bingung mencari variasi warna, sementara cat yang diberi cuma empat warna yakni merah, biru, putih, dan hitam. “Seni lukis merupakan alat untuk mengenalkan budaya Papua, saya berharap dengan program-program seperti ini muncul pelukis-pelukis muda dari Papua, kegiatan seperti ini akan terus kita apresiasi untuk mendorong daya tarik wisata di daerah ini ,”ujar I Gede Wiradana, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manokwari.  ”Di mulai dengan lomba seperti ini saya ingin mendorong pelukis muda terutama kalangan pelajar diberikan wadah, mereka harus diyakinkan bahwa ada tempat untuk mengekpresikan seni lukis di Manokwari, jangan ada pikiran bahwa seni lukis itu identik dengan kesembronoan, kalau seni lukis digarap serius diposisikan dengan elegan sebuah karya lukis bisa berharga jutaan rupiah dan dipajang di tempat-tempat elit, saya berharap suatu saat ada pameran seni lukis di Manokwari, ”ujar Misbah.

Pada perlombaan tersebut keluar sebagai pemenang adalah; Ulis Kaibur (Juara I Putra), Jack P.Yoluey (Juara II), Auri Angel (juara III) dan Mu.Arif Rahman (Juara Harapan I Putra). Sementara pada kategori putri adalah; Maria Rosaryanti (Juara I Putri), Evania Rumbobiar (Juara II), Sheila Nadia (Juara III), Putri Suci (Juara Harapan I), Vita Fatimah (Juara Harapan II), dan Felesia (Juara Harapan III). Adapun hadiah pada perlombaan tersebut adalah Piala dan uang pembinaan yang diserahkan oleh Yunus Aikhwan selaku ketua panitia lomba lukis tersebut. “Kita ingin sanggar-sanggar kesenian bisa hidup di Manokwari, kalau sanggar memiliki izin seperti akte notaris kita akan perhatikan sanggar tersebut,”papar Yunus Aikhwan.**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Ketika Anak Papua “Menumpahkan” Cat di Atas Kanvas"