Membangun Ketertinggalan Pendidikan Papua, Tugas Siapa?

Peresmian Taman Baca oleh GGD Manokwari di Distrik Tanah Rubuh

Papua di ujung timur Indonesia adalah pulau dengan segudang permasalahan yang tidak akan habisuntuk diperbincangkan. Di antaranya mengenai potret pendidikan yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan. Pemerintah Pusat tidak pernah berhenti melakukan kajian dan terobosan untuk memajukan pendidikan di Papua. Kucuran dana tidak tanggung-tanggung mengalir demi membangun pendidikan di Papua.
Apa sebenarnya yang menjadi permasalahan pendidikan di Papua?
Pertanyaaan ini terkadang membingungkan untuk menjawabnya mulai dari mana pun tidak tahu pasti. Jika dilihat dari sudut pendidikan, hal ini sangat kompleks dan untuk mencari akarnya pun tidak hanya dengan membuka mata dan mengatakan bahwa permasalahannya disebabkan karena ini atau pun itu. Perlu kajian mendalam untuk menganalisis akar permasalahannya. Jika permasalahan yang sangat kompleks, maka memerlukan penanganan yang hebat dan bijaksana, bukan hanya segelontor dana dan program jangka pendek yang akan menambah akselerasi ketertinggalan pendidikan di tanah yang kaya sumber daya alam ini.
Ketersediaan gedung sekolah menjadi masalah pertama yang menjadi sasaran pembangunan pendidikan. Sarana gedung sekolah harus dekat dengan masyarakat Papua dan tidak boleh ada lagi siswa yang harus berjalan puluhan kilometer untuk dapat ke sekolah apalagi sampai melewati gunung dan hutan. Jumlah penduduk yang kurang disetiap kampung juga perlu kajian strategis dalam membangun sekolah. Berbeda halnya dengan wilayah lain di Indonesia yang penduduknya padat.
Buku-buku bacaan wajib tersedia di sekolah-sekolah. Akan tetapi, kenyataannya masih banyak sekolah yang tidak tersedia buku bacaan atau buku pelajaran. Hal ini berbeda dengan kondisi di luar Papua. Pada umumnya mereka sudah mampu membaca dengan lancar bahkan mampu menggunakan fasilitas internet yang menyediakan buku elektronik, yang disebut ebook
Masalah yang selama ini juga sangat sulit terpecahkan adalah ketersediaan guru. Jumlah guru di Papua sudah cukup banyak, tetapi pendistribusiannya tidak merata. Hal ini menjadi pekerjaan rumah para pemegang kebijakan untuk menanganinya. Pada tahun 2015, Kemdikbud menerapkan guru dan siswa. Perbandingan yang diterapkan yaitu 1:10 untuk jenjang SD dan 1:20 untuk jenjang SMP.Lantas apa penyebab pendistribusian guru tidak merata?Alasan di antaranya adalah keengganan guru mengabdi di daerah terpencil. Keengganan tersebut disebabkan karena tidak didapatnya tunjangan sertifikasi karena rasio jumlah guru dan siswa tidak sebanding, serta karena minimnya fasilitas yang meliputi tidak adanya listrik, jaringan komunikasi (sinyal), kondisi air yang kurang layak dikonsumsi, transportasi yang susah didapat, fasilitas kesehatan yang kurang atau bahkan tidak layak, lingkungan masyarakat yang rawan akan kejahatan, dan tidak tersedianya tempat tinggal/perumahan kerja.

Baca juga : https://manokwariku.com/pendidikan/ingat-pengalaman-dengan-sm-3t-guru-pedalaman-ini-menangis-catatan-lokakarya-hari-guru-sedunia/

Banyak yang mengatakan kunci kemajuan pendidikan ada di tangan guru. Pernyataan tersebut ada benarnya juga, tetapi kita tidak bisa menyangkal bahwa peranan masyarakat dan keluarga sangat penting dalam memajukan pendidikan di Papua. Resistansi masyarakat terhadap perubahan nilai-nilai sosial budaya secara global membuat pendidikan di Papua sulit maju. Sikap kooperatif masyarakat masih sangat kurang dalam mendukung proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Anak-anak lebih banyak membantu orang tua di kebun dibandingkan datang ke sekolah. Guru pun tidak bisa banyak berbuat apa-apa jika masyarakat sendiri belum memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anak mereka.

Baca juga:
https://manokwariku.com/opini/ribuan-guru-pelosok-bakal-terancam-kehilangan-tunjangan-profesitunjangan-khusus-karena-kebijakan-penetapan-daerah-sangat-tertinggal/

Sejauh ini pemerintah telah menyelenggarakan beberapa program strategis dalam rangka mempercepat pembangunan pendidikan di Papua. Di antaranya adalah dengan menyekolahkan putra daerah (Papua) secara berasrama, pengiriman guru SM-3T untuk daerah terpencil, program Guru Garis Depan,  dan masih banyak lagi program yang bukan hanya dari pemerintah tetapi juga dari berbagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Program-program tersebut akan menuai hasil yang maksimal jika seluruh elemen bekerja sama dengan baik untuk saling mendukung dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945. Jadi untuk membangun pendidikan Papua adalah tugas seluruh elemen mulai dari guru, masyarakat Papua sendiri, tokoh adat, pemuka agama, aktivis pendidikan, dan gotong-royong seluruh rakyat Indonesia.

Jamaluddin, S.Pd, Gr

Guru Garis Depan Manokwari

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Membangun Ketertinggalan Pendidikan Papua, Tugas Siapa?"