Meningkatkan Minat Baca Anak dengan Buku Ajar Cerita Bergambar (Komik)

ilustrasi

MANOKWARIKU.INFO – Aktifitas membaca merupakan salah satu prasyarat yang harus digalakkan kepada peserta didik dalam upaya penguasaan materi pelajaran. Dengan kebiasaan dan kecintaan membaca sejak dini, peserta didik menjadi lebih mudah mempelajari apapun, termasuk buku-buku pelajaran yang berefek pada meningkatnya prestasi akademik. Pentingnya aktifitas membaca ini  terhadap anak-anak usia sekolah telah dipahami dan ditindaklanjuti oleh berbagai negara maju. Misalnya negara Jepang, dimana setiap anak di Jepang diwajibkan membaca tuntas lima buku per bulannya. Aktifitas ini dapat kita lihat dari prilaku (kebiasaan) orang-orang Jepang membaca kapan dan dimana saja, bahkan ketika mereka naik  busway aktifitas membaca masih dilakukan oleh orang-orang Jepang tersebut. Buku-buku tersebut biasanya berbentuk buku komik. Karena di Jepang-pun gambar ikon (komik) memang menjadi santapan sehari-hari, gambar-gambar ikon kreatif ini bahkan di pakai untuk kebutuhan instansi formal-pun. Saat ini Jepang merupakan salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terkuat didunia.

Tentu saja semua kemajuan tersebut tak lepas dari kualitas Sumber Daya Manusianya yang suka membaca sejak dini. Dibandingkan dengan negara Indonesia aktifitas membaca anak-anak Indonesia ternyata setelah diteliti sangatlah rendah. Berdasarkan riset tahunan Progress in Internasional Reading Literacy Study (PIRLS), yang melibatkan siswa SD, Indonesia berada pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. Menurut Agus,M Irkham (Gempa Literasi.2012.Gramedia) setidaknya ada tiga realitas yang menyebabkan rendahnya minat baca anak-anak Indonesia. Salah satunya adalah tidak adanya integrasi yang nyata, jelas, dan tegas antara mata pelajaran yang diberikan dengan kewajiban siswa untuk membaca. Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan mencari sumber pembelajaran di luar buku pegangan dari guru. Pada penyataan diatas penulis (Safei)  mengfokuskan realitas yang dikemukakan Agus M.Irkham pada point “Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan mencari sumber pembelajaran di luar buku pegangan dari guru.”

Pada point kalimat yang miringkan tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu inti dari rendahnya minat baca siswa di sekolah adalah tidak adanya bahan bacaan yang menarik yang dapat ditemukan anak-anak di sekolah. Sementara bahan ajar atau buku ajar yang selama ini ditemukan anak-anak baik diperpustkaan atau dipinjamkan setiap bidang studi kepada anak ternyata tidak menarik bagi anak-anak. Buku ajar yang dimaksud terkesan kaku, terlalu formal, dan monoton. Sementara anak-anak lebih suka bacaan yang bergambar, ringan dan tidak formal (penuh dengan huruf-huruf). Oleh karena itu paradigma buku ajar harus dirubah dari bacaan yang kaku, membosankan, monoton dirubah menjadi bacaan yang lebih kreatif, lebih menarik, fleksibel, bergambar, dan penuh warna (imajinasi). Buku tersebut bisa diwujudkan atau dialihbentukkan dalam bentuk cerita bergambar, bisa dalam bentuk komik namun tetap mengisi muatan pelajaran didalamnya (Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar). Harus kita pahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan penuh imajinasi. Dengan buku-buku seperti ini maka pembelajaran yang Joyful Learning (pembelajaran yang menyenangkan) dapat diwujudkan. Dengan sendirinya anak-anak akan gemar membaca. Hal tersebut telah terbukti dan dilakukan di Jepang. Kebiasaan membaca diusia dini dapat diasah dengan mendekatkan mereka pada bacaan yang disenangi, bukan bacaan yang terkesan terpaksa karena mau menjelang ujian sekolah.

 

Safei,  Guru SMPN Satap 42 Mupi

Tidak ada Respon

Komentar ditutup.