Peduli Gerakan Literasi, Eko Suyoko Bersepeda Keliling Indonesia

Eko Suyoko

MANOKWARIKU.COM – Berbagai penelitian tentang minat baca, selalu menempatkan posisi Indonesia pada rangking yang tidak menggenakkan. Hal ini membuat berbagai pihak, terutama penggiat literasi merasa tergerak menumbuhkan minat baca di tengah masyarakat. Maka, muncullah gerakan membaca diberbagai tempat secara swadaya. Misalnya di Mandar, Ridwan Alimuddin menggunakan perahu untuk membuat pustaka yang bergerak ke penjuru pulau di Mandar. Di Lampung Sugeng Haryono  menggunakan sepeda motor, dan di Papua Agus Mandowen langsung membawa buku ke kampung-kampung dengan tas nokennya.

Namun, hal lebih aneh dan nekat bahkan dilakukan oleh Eko Suyoko. Peduli dengan gerakan membaca di tanah air, ia bersepeda (Gowes) keliling Indonesia dengan jargon “Buku Nusantara”. Pria asal Semarang yang tidak mau menyebutkan tahun kelahirannya ini telah melakukan perjalanan bersepeda (Gowes) sejak bulan Juni lalu. “Saya memulai perjalanan dari Sidoarjo, lalu menyebrang Bali, Lombok, hingga pulau-pulau di NTT, dari NTT saya lanjut ke Pulau Sulawesi dan singgah di beberapa kota, mulai dari kota paling selatan, Jeneponto di Sulawesi Selatan hingga Pulau Sangihe di Sulawesi Utara, setelah itu lanjut ke Ternate, Ambon, dan sampai ke Papua,”ujar Eko yang hanya membawa sepeda ontel dengan “Rombong” yang berisi buku-buku bacaan kemana-mana.

Dengan tingginya kejahatan di jalanan, seperti begal, tentu apa yang dilakukan pria yang pernah mengenyam pendidikan Diploma Perhotelan itu beresiko. Ternyata ia punya trik sendiri. Biasanya saat masuk ke kota yang baru ia singgahi ia langsung melapor ke Polsek setempat dan meminta surat jalan, dan ia hanya melakukan Gowes Sepeda Pustaka tersebut hanya  pagi hari. Siang hari ia beristirahat di masjid atau mushala. Melakukan perjalanan tanpa tujuan yang jelas, tidak sekali juga ia mendapat perlakuan yang tidak menggenakkan. “Saya Gowes ini dengan kondisi blank, maksundya saya nekat saja, tidak ada alamat suadara dan kenalan yang akan saya tuju,”ujar Eko.

Pernah waktu masuk Pulau Bali ia digeledah seperti seorang teroris di kantor polisi. “Waktu itu saya digeledah, tas saya diperiksa hingga pakaian saya berserakan, kebetulan saya mengkliping koran perjalanan Gowes saya yang ditulis oleh wartawan, dan polsi tersebut membacanya dengan seksama, sejak itu baru polisi mempersilahkan saya melanjutkan perjalanan, bahkan saya dikasih uang jajan meski sepuluh ribu, lumayan,”ujar Eko tertawa saaat saya wawancarai di pos Motor Noken Pustaka Wosi, Manokwari, Senen, (20/11).

Perjalanan Eko Suyoko memang beresiko, bahkan ia mengaku melakukan perjalanan tersebut dengan saku kosong alias tidak ada uang. “Kadang-kadang ada orang yang mengasih saya uang, pernah waktu perjalanan Gowes ini sampai di Pasuruan stank sepeda saya patah, dan tidak bisa lagi dikendarai, sementara saya tidak ada uang untuk memperbaikinya, untung ada orang yang berbaik hati membantu memperbaiki di tempat tukang las,”ujar Eko yang pernah bekerja menjadi karyawan hotel tersebut. Untuk bisa sampai menyebrang pulau dalam perjalanannya, Eko meminta bantuan kepada Pimpinan Pelni di setiap pelabuhan untuk bisa menumpang secara cuma-cuma.  Bahkan ia pernah naik kapal tongkang kontainer. Kliping koran merupakan “tiket”-nya untuk menumpang secara gratis.

Perjalanan Eko Suyoko bersepeda keliling Indonesia sampai di Manokwari Jum’at 3 November lalu. Di Manokwari pun awalnya tidak ada satu pun sahabat yang akan ia singgahi. Untung ada David Pasaribu, Founder Komunitas Suka Membaca (KSM) yang mengetahui kedatangan Si Pembawa Buku bersepeda keliling Indonesia tersebut. Maka diperkenalkanlah Eko Suyoko dengan Noken Pustaka, dimana di sana ada Misbah Surbakti, Ali Sunarko, dan Anand Yunanto. Untuk menginap dan makan, Eko Suyoko ditampung Ali Sunarko di rumahnya. Selama 14 hari Eko Suyoko berkeliling Manokwari menyebar virus membaca dengan armada masing-masing. Eko Suyoko dengan sepeda, Anand Yunanto dengan armada Motor Noken Pustaka. Perjalanan tur literasi mereka pun sampai di daerah SP. Mereka singgah di sekolah-sekolah dan kampung di sepanjang perjalanan tersebut sambil memberikan layanan perpustakaan bergerak.

Senin, (20/11) Eko Suyoko melanjutkan perjalanan Ke Pulau Biak, Papua menumpang kapal Pelni. Tentu, belum tahu siapa yang akan ia tuju dan bagaimana cara ia bisa kembali ke kampung halamannya. Yang pasti Eko Suyoko akan terus mengayuh sepedanya membawa tujuan mulia sebagai bentuk berpartisipasi memajukan bangsa dengan cara sederhana dan juga nekat. “Setelah perjalanan ini sampai pada titiknya, saya ingin sekali suatu saat  memiliki tempat menetap untuk mendirikan taman baca sambil menjadi guru ngaji,”tutup Eko Suyoko yang memang telah hidup “nomaden”  sejak kecil.**

Safei, Penulis adalah Guru Garis Depan Manokwari

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Peduli Gerakan Literasi, Eko Suyoko Bersepeda Keliling Indonesia"