Sebuah  Gerakan Literasi di Sekolah SD Pedalaman

 

Sebuah  Gerakan Literasi di Sekolah SD Pedalaman

 

                                                                           Oleh: Safei, S.Pd

 

      

 

Sepeda motorku melaju dengan kecepatan tinggi. Abu dan kerikil kecil yang diterbangkan oleh truck pasir kadang menerpa wajahku. Aku harus hati-hati, kadang-kadang mobil “Hilux” (sejenis mobil offroad) bisa tiba-tiba sudah ada dibelakangku. Mobil jenis ini memang umum di Papua. Mobil ini tidak pernah melaju pelan. Aku sering melihat mobil ini terjungkal di tepi jalan karena bersenggolan dengan mobil lain. Siang itu panas sangat terik di Manokwari. Maklum, Papua memang terkenal dengan suhu yang panas. Kadang baru jam delapan pagi matahari sudah terasa sangat panas di kulit. Pernah suatu ketika punggungku sampai melepuh karena kerja di luar ruangan sambil membuka baju. Aku bermaksud hendak singgah di sebuah sawmill (tukang kayu) untuk membeli selempengan kayu untuk kubawa ke sekolah.

“Buk Irma, kita harus buru-buru, kalau terlalu sore nanti kita pulang kemalaman,”ujarku pada Buk Irma salah seorang teman satu sekolahku. Lewat di jalanan saat malam hari di Manokwari memang beresiko. “Kalau tidak kita menabrak orang, orang mabuk yang menabrak kita”, begitu kata orang di Manokwari. Apesnya, kalau sempat menabrak hewan ternak seperti babi dan ayam, maka urusan bisa panjang. Satu ekor babi bisa dikenakan denda sampai puluhan juta. Kalau tidak mau mengganti maka mata panah dan parang warga yang akan menyelesaikan. Begitu sudah!

“Pak guru, di sana ada sawmill, mungkin kita bisa beli kayu-kayunya di sana,”ujar buk Irma menunjuk sebuah tempat di tepi jalan. Aku pun mengurangi kecepatan dan menepi. Rencananya kayu selempengan tersebut akan aku jadikan rak-rak buku di sekolah. Sekolahku berada di kaki Gunung Arfak, sekitar 30 kilo dari tempat tinggalku. Butuh perjalanan 40 menit dengan sepeda motor. Berada di pinggiran Manokwari sekolahku sering di cap negatif. Macam-macam kudengar dari orang, mulai berada di desa pemabuklah, atau disebut sekolah yang berada dalam garis merah. Namun, hal itu tidak aku hiraukan. Menurutku di mana kita berada asal ikhlas dalam berbuat kebajikan kita pasti akan diterima dalam lingkungan tersebut. Buktinya, sudah tiga tahun aku bertugas di sekolah tersebut aman-aman saja.

Memang sekolahku masih Sekolah Satu Atap (Satap) di mana SD dan SMP digabung satu tempat dan satu kepala sekolah. Sekitar tiga tahun lalu sekolah ini mengalami kemunduran yang luar biasa. Di desa ini masyarakat biasanya menanam pohon enau, airnya dijual untuk pengganti arak. Kadang dikonsumsi sendiri. Makanya desa ini disebut desa pemabuk dan hal-hal negatif yang sudah terlanjur disematkan masyarakat luar. Sehingga banyak guru yang tidak sanggup mengajar di desa tersebut. Sekolah ini dahulu terancam di tutup, siswa kelas tiga SMP kutemukan banyak yang belum lancar membaca. Miris memang.

Setelah tawar menawar dengan pemilik sawmill, akhirnya aku dapat membeli kayu selempengan dengan murah. Aku bayar dengan harga sebungkus rokok saja. Kayu-kayu tersebut aku ikat kuat-kuat, beratnya hampir 30 kilo. Dibantu Buk Irma kami pun membawa kayu tersebut ke sekolah dengan perjalanan yang cukup jauh. “Pak Safei, tanganku pegal ini,”ujar Buk Irma setelah hampir 40 menit mendagang kayu di atas motor.

Setelah sampai di sekolah, kayu-kayu tersebut aku potong untuk dijadikan rak buku sederhana. Literasi memang menjadi perhatian khusus bagiku sejak setahun yang lalu. Maklum saja banyak siswaku yang belum lancar membaca, perbendaharaan bahasanya sangat rendah, wawasan mereka pun sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya akses literasi di sekolah. Selain tidak memiliki perpustakaan di sekolah, mencari toko buku pun sulit di Manokwari.  Sebuah data lama kutemukan, bahwa sekitar 36,63 persen pada tahun 2013 di Papua masih buta aksara (Republika 31 Desember 2015). Meskipun data lama angka-angka tersebut tidak bergeser dari beberapa provinsi yang di rilis, salah satunya di Tanah Papua (Prov.Papua dan Prov. Papua Barat).

Sebagai sekolah yang masuk dalam “peta” 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan), sekolahku memang tidak seberuntung sekolah di perkotaan. Tidak satu pun ditemukan buku bacaan non teks pelajaran. Buku teks pelajaran ini pun pernah kutemukan hanya teronggok di gudang sekolah. Kondisinya sudah rusak di makan rayap karena tidak dimanfaatkan. Permasalahan kompetensi guru memang masih menjadi masalah pelik di sekolah-sekolah pedalaman, termasuk sekolahku.

Melihat kondisi ini aku pun mencoba membalikkan situasi yang menimpa sekolahku. Meski tidak memiliki gedung perpustakaan, sekarang bagiku ruang kelas harus disulap menjadi ruang yang serba guna. Langkah pertama yang aku buat adalah membuat rak-rak buku sederhana di setiap dinding kelas. Dengan adanya rak-rak tersebut siswa akan terpancing untuk membaca, sebab pojok buku sudah ada di ruang kelas mereka sendiri. Pustaka dalam kelas ini kirannya bisa menjadi implementasi Gerakan Literasi di Sekolah daripada menunggu bantuan gedung perpustakaan yang tidak kunjung datang.

Soal pengadaan buku memang terkadang menjadi kendala. Apalagi ada enam kelas yang harus aku buatkan rak buku kreatif di kelas mereka. Mengatasi masalah pengadaan buku tersebut kebetulan aku bergabung dengan komunitas  literasi di Manokwari. Komunitas tersebut bernama “Noken Pustaka”. Aku merupakan anggota aktif dalam komunitas tersebut. Komunitasku bergerak dalam pelayanan perpustakaan keliling yang dikelola secara swadaya. Sebelum ada rak buku seperti sekarang, sebelumnya aku langsung membawa buku dengan tas keranjang ke sekolah. Lalu buku tersebut harus aku bawa kembali ke sekre.

Melihat program sosial ini bagus dan memberi dampak pada masyarakat, sehingga banyak orang yang mendonasikan buku ke komunitasku, bahkan dari luar provinsi. Sehingga buku-buku tersebut aku usulkan untuk dihibahkan kembali ke sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan.  Tentu saja sekolahku yang pertama aku usulkan. “Komunitas Noken Pustaka harus mampu menghidupkan gerakan literasi di sekolah,” ujarku kepada teman-teman di komunitas. Mereka pun menyetujui ide tersebut.

Supaya buku-buku tersebut tetap terjaga dan tidak di curi siswa, maka aku tunjuk seorang siswa sebagai penanggung jawab. Tugasnya adalah mengontrol buku dan menyusunnya di rak hingga mencegat siswa yang hendak mencurinya. Sehingga buku-buku tersebut tetap utuh dan tidak hilang. Sekarang setiap kelas memiliki rak buku dengan beragam disain terpasang di dinding kelas mereka. Selain sebagai pojok literasi, ternyata pajangan buku tersebut juga memiliki nilai estetika. Dengan adanya rak-rak buku tersebut aku pun bisa memaksimalkan Gerakan Literasi Sekolah. Setiap kelas aku galakkan untuk membaca 15 menit sebelum mereka belajar. Mereka bebas memilih buku yang telah tersusun di rak tersebut. Biar tidak bosan terkadang aku meroling buku-buku tersebut per kelas.

Masalah literasi memang menjadi masalah ‘emergency’ di sekolah-sekolah pedalaman. Penguatan literasi di daerah pedalaman memang harus dilakukan. Pengelola sekolah harus berpikir kreatif dan inovatif untuk menumbuhkan budaya literasi di sekolah. Sulitnya medan yang dilalui juga kadang menjadi kendala, apalagi topografi Papua yang bergunung dan berlembah. Sadar dengan kondisi ini, teman-teman di komunitasku (Noken Pustaka) sampai memanfaatkan kuda untuk mobilitas pustaka keliling.

Untung ada Pak Darsono, seorang petani di Distrik Masni, Manokwari. Saat ada waktu senggang Pak Darsono menunggangi kuda tersebut dan mendatangi sekolah-sekolah di Distrik Masni sambil membawa buku yang telah dibuatkan keranjangnya. Anak-anak pun histeris melihat kuda di sekolahnya, kuda memang hewan langka di Manokwari. Jumlahnya bisa dihitung jari. Dengan suasana riang melihat kuda untuk pertama kalinya, Pak Darsono pun mengeluarkan buku-buku bacaan yang menarik. Anak-anak pun berebut untuk membacanya. Kuda tersebut disumbangkan oleh Nirwan Arsuka, seorang budayawan pemerhati literasi daerah tertinggal.

Perbandingan budaya literasi daerah pedalaman dengan perkotaan memang terasa sangat kentara. Di sekolah-sekolah perkotaan tidak sedikit siswa tingkat SD yang telah  sampai pada tahap literasi tulis. Bahkan banyak siswa SD yang sudah mampu menerbitkan buku. Itu pun didukung oleh TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang sudah dikuasai. Umumnya mereka telah memiliki gadget canggih dengan fitur-fitur yang mendukung untuk mengakses informasi, misalnya internet.

Kesenjangan yang terlalu  jauh ini harus dikejar dengan penguatan literasi di sekolah-sekolah pedalaman. Gerakan Literasi Sekolah harus menjadi salah satu program unggulan sekolah. Bahkan anggaran dana BOS boleh digunakan sampai 20% untuk mendukung gerakan literasi di sekolah. Kebijakan ini harus dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah untuk mendukung gerakan literasi di sekolah. Gerakan literasi sekolah bukan hanya sekedar prioritas yang harus digerakkan, tapi menjadi investasi penting bagi masa depan bangsa. Untuk daerah pedalaman, kreatifitas guru sangat penting untuk tetap menggalakkan literasi meski dengan segala keterbatasan.**

 

Penulis adalah Guru GGD di Sekolah Dasar Satu Atap Mupi Manokwari, Prov.Papua Barat.

author
talk les do more
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Sebuah  Gerakan Literasi di Sekolah SD Pedalaman"